Menjelaskan pencatan pembentukan kas kecil pembentukan
kas kecil pembayaran menggunakan kas kecil pengisian kembali kas kecil dengan
sistem dana tetap
A.
Pengertian Kas Kecil
Kas kecil adalah uang yang disediakan untuk membayar
pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil, dan tidak ekonomis bila
dibayar dengan cek.
B.
Pembayaran Kas Kecil
Pembayaran
melalui kas kecil dilakukan untuk hal-hal sbb:
1. Pengeluaran
kas kecil, biasanya sudah ditentukan batas maksimum setiap terjadi
pengeluaran-pengeluaran
2. Pengeluaran
kas kecil tidak dibolehkan untuk pemberian pinjaman pada staf
3. Bukti
pengeluaran kas kecil harus ditandatangani oleh pemengang kas kecil
4. Bila ada
bukti-bukti pembayaran, seperti kwitansi, faktur atau bukti-bukti pendukung
lainnya harus dilampirkan pada bukti
5. pengeluaran
kas.
C.
Pengisian Kas Kecil
Jadi bila jumlah uang yang terdapat dalam kas kecil sudah menipis, maka
dana harus diisi dengan cara :
1. Pemegang kas
kecil mengajukan permintaan pada bendahara kas
2. Pemegang kas
kecil menyiapkan daftar pengeluaran yang dilampiri bukti-bukti pengeluaran kas
kecil.
3. Apabila
sudah sesuai dengan ketentuan, maka bendahara kas akan memberi tanda
persetujuan pada formulir permintaan dan memberikan dana sebesar jumlah kas
kecil yang telah dikeluarkan.
D.
Dana kas kecil Metode Dana Tetap (Imprest Method)
Pengisian kas kecil dengan metode tetap biasanya
berdasarkan periode (periodical), pengisian kembali kas kecil
biasanya dilakukan pada akhir periode beserta pengembalian bukti-bukti
penggunaan kas kecil, jumlah bukti-bukti pembelanjaan kas kecil harus sama
dengan jumlah kas kecil yang ada pada catatan bendahara kas kecil. Pengisian
kembali pada akhir periode menyesuaikan dengan jumlah saldo kas kecil sebelumnya,
misalnya pengisian kas kecil ketika pembentukan awal sejumlah Rp 500.000,00
maka ketika akhir periode pengisian kas kecil dengan jumlah yang sesuai
sehingga menghasilkan saldo kas kecil sebesar Rp 500.000,00.
3.2 Menjelaskan pencatan pembentukan kas kecil pembentukan
kas kecil Pembayaran menggunakan kas kecil pengisian kembali kas kecil dengan
sistem dana berluktuasi
A. Pembentukan Kas Kecil
Hal
yang paling penting dalam pembentukan kas kecil adalah penunjukan petugas
sebagai pemegang kas kecil. Selain itu perusahaan juga harus menetapkan jumlah
dana kas kecil. Biasanya jumlah dana kas kecil ditaksir dengan memperhitungkan
kebutuhan dana untuk tiga atau empat minggu. Jika jumlah dana telah ditetapkan,
maka kasir perusahaan menarik cek untuk diserahkan kepada pemegang kas kecil.
B. Pembayaran Melalui Kas Kecil
Pemegang kas kecil mempunyai kewenangan
untuk melakukan pengeluaran kas dengan menggunakan uang yang terdapat dalam kas
kecil sepanjang tidak bertentangan dengan kebijakan yang telah ditetapkan manajemen.
Biasanya manajemen membuat ketentuan tentang jumlah batasan maksimum
pengeluaran untuk tiap transaksi yang diijinkan dan larangan-larangan tertentu,
misalnya kas kecil tidak boleh digunakan untuk meberi pinjaman kepada karyawan.
Setiap pembayaran yang dilakukan melalui kas kecil harus didokumenta-sikan
dengan menggunakan Bukti Pengeluaran Kas Kecil (atau Voucher Kas Kecil). Bukti
pengeluaran kas kecil harus ditandatangani oleh pemegang kas kecil maupun oleh
orang yang melakukan pengeluaran. Bila tersedia bukti pendukung lain seperti
kwitansi penerimaan pembayaran atau faktur, maka bukti-bukti pendukung tersebut
harus dilampirkan pada bukti pengeluaran kas kecil.
Bukti-bukti pengeluaran kas kecil harus
disimpan pada temp`at penyimpanan uang sampai kas kecil diisi kembali. Oleh
karena itu jumlah rupiah dari seluruh bukti pengeluaran dan jumlah uang yang
terdapat dalam kas kecil harus selalu sama dengan jumlah dana kas kecil yang
ditetapkan perusahaan (dalam contoh diatas Rp. 100.000,00).
C. Pengisian kembali kas kecil metode
fluktuasi
Dalam penggunaan metode fluktuasi, dana
kas kecil tidak diterapkan dalam jumlah yang tetap sehingga penggantian dana
kas kecil tidak perlu sama dengan jumlah dana yang telah digunakan. Jumlah dana
kas kecil akan berfluktuasi, disesuaikan dengan jumlah dana yang diperlukan. Ciri-ciri
pengelolaan dana kas kecil dengan metode fluktuasi adalah sebagai berikut:
1) Pembentukan dana pengisian kembali
dana kas kecil dicatat debet dalam akun
Kas Kecil
2) Bukti pengeluaran kas kecil dicatat
dalam buku jurnal kas kecil dengan mendebet akun-akun yang terkait dengan
penggunaan dana dan kredit akun Kas Kecil
3) Besarnya jumlah dana kas kecil yang
disediakan berfluktuasi, disesuaikan dengan perkembangan kegiatan bagian-bagian
pemakai dana.
3.3 Menjelaskan Pemeriksaan Fisik Saldo Kas Kecil
Perlakuan
Adanya Selisih Kas
1.
Penghitungan Fisik
Pencatatan dan pelaporan kas kecil hendaklah bersifat akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan, untuk itu setiap pembukaan diawal jam kerja dan
penutupan di akhir jam kerja operasional perusahaan, hendaknya selalu dilakukan
penghitungan fisik. Untuk kemudian di cocokankan dengan catatan kas kecil atau
lebih dieknal dengan rekonsiliasi kas kecil. Jika ditemukan perbedaan antara
fisik dan akas kecil dengan catatan yang ada, maka perbedaan tersebut hendaknya
dilaporkan kepada Financial Controller, jika sudah di approve, maka mintalah
bookkeeper melakukan adjustment atas perbedaan tersebut.
2. Perlakuan
terhadap selisih kas
Dalam buku besar akhir periode akuntansi, akun Selisih
Kas mungkin menunjukkan saldo debet atau saldo kredit. Saldo debet akun Selisih
Kas pada akhir periode akan dipin-dahkan ke sisi debet akun Ikhtisar Laba Rugi,
artinya diperlakukan sebagai kerugian (beban). Sementara saldo kredit akun
Selisih Kas dipindahkan ke sisi kredit akun Ikhtisar Laba Rugi sebagai
keuntungan.
Dalam laporan laba rugi, keuntungan karena adanya selisih
kas lebih diinformasikan sebagai pendapatan di luar usaha. Sementara kerugian
karena adanya selisih kas kurang, diinformasikan sebagai beban di luar usaha.
Apabila jumlahnya dipandang cukup berarti (material), biasanya disajikan dalam
pos luar biasa (Extra Ordinary).
3.4 Menjelaskan
Manfaat Penyimpanan Kas Perusahaan Di Bank Penggunaan Cek Untuk Pembayaran Adanya Memo Debet Dan Memo Kredit Dari Bank
A. Manfaat
penyimpanan kas perusaahaan di bank
Penyimpanan kas di bank
temasuk sistem pengendalian intern yang di digunakan manajemen untuk
mengamankan, mencegah pemborosan, dan penyalahgunaan kas, karena biasanya
didalam bank terdapat praktik tertentu yang dapat mengamankan kas. Setiap
bulannya bank memberikan laporan kepada perusahaan mengenai transaksi –
transaksi yang telah terjadi secara terinci. Agar dapat memperoleh manfaat yang
sebesar – besarnya dari pengawasan ini, sebaiknya perusahaan membuat ketentuan
bahwa setiap penerimaan uang disetor ke bank dan setiap pengeluaran uang
(kecuali yang jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan
dapat dibandingkan dengan laporan bank. Biasanya laporan bank akan diterima
bulanan dan akan direkonsiliasi dengan catatan kas. Oleh karena itu
rekonsiliasi bank merupakan hal yang penting karena tersedianya catatan ganda
atas seluruh transaksi bank dengan perusahaan yang berguna untuk mengetahui
jumlah saldo rekening perusahaan yang sebenarnya.
B. Penggunaan
Cek Untuk Pembayaran
Cek adalah Surat perintah tanpa
syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut,
untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan didalamnya atau
kepada pemegang cek tersebut.
Cek merupakan salah satu sarana yang
digunakan untuk menarik atau mengambil uang direkening giro. Fungsi lain dari
cek adalah sebagai alat untuk melakukan pembayaran
C. Adanya memo debet dan kredit dari bank
Memo debet ini lebih banyak diaplikasikan di
perbankan, dimana merupakan bukti atau informasi adanya pendebitan
rekening.Sebaliknya, memo kredit merupakan warkat yang berisi informasi terkait
pengeluaran dana pada prbanlan adalah berupa kredit rekening
Informasi ini sangat penting guna mengetahui
adanya transaksi.Tanpa bukti transaksi berupa memo debit dan memo kredit, maka
tidak akan terlacak kemana larinya uang. Sistem pencatatan ini juga berfungsi
sebagai pelaporan.
Dari hasil adanya memo kredit dan debet dapat
di ketahui sisa dana. Selain di dunia perbankan, memo debet dan kredit juga di
perlukan untuk pencatatan hasil penjualan guna mengetahui saldo
3.5 Menjelaskan Penyebab Terjadinya Perbedaan
Saldo Kas Menurut Catatan Perusahaan Dan Catatan Di Bank.
A.
Penyebab Selisih Rekening Koran
dan Saldo Kas di perusahaan
Setiap akhir
bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi
selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara
catatan yang ada dengan catatan dari bank. Selisih atau perbedaan saldo
tersebut disebabkan karena beberapa faktor yang timbul dari kedua belah
pihak.
Berikut
adalah beberapa penyebab timbulnya perbedaan saldo antara catatan menurut
perusahaan dengan rekening koran yang diterbitkan oleh bank:
·
Deposito in Transit (setoran
dalam perjalanan).
Setoran yang telah diperhitungkan
dalam catatan perusahaan sebagai penambah saldo cash in bank, tetapi
belum masuk dalam catatan rekening koran bank (belum di kredit oleh bank
bersangkutan). Untuk tujuan rekonsiliasi bank, setoran dalam perjalanan ini
sifatnya akan mengoreksi (menambah) besarnya saldo cash in bank menurut
rekening koran (catatan bank).
·
Outstanding Checks (cek yang
masih beredar)
Pihak perusahaan di dalam
pembukuannya sudah mengurangi besarnya saldo cash in bank sebagai
pembayaran utang ke kreditur/supplier dengan menggunakan cek, namun
sampai dengan akhir bulan kreditur/supplier tersebut belum juga mencairkannya
ke bank sehingga saldo cash in bank menurut rekening koran bank belum
mencerminkan pembayaran tersebut (belum didebet oleh bank bersangkutan). Untuk
tujuan rekonsiliasi bank, cek yang masih beredar ini sifatnya akan
mengoreksi (mengurangi) besarnya saldo cash in bank menurut
rekening koran (catatan bank).
·
Not Sufficient Fund Check (cek tidak
cukup dana).
Begitu perusahaan menerima cek
pembayaran dari pelanggan, pihak perusahaan di dalam pembukuannya tentu saja
akan segera menambahkan besarnya penerimaan ini ke dalam saldo cash in bank (dengan
cara mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun piutang usaha atas
nama pelanggan bersangkutan), yang namun ternyata telah disetor ke bank cek
tersebut tidak bisa dicairkan (ditolak oleh bank) karena tidak cukup dana/cek
kosong. Untuk tujuan rekonsiliasi, cek yang dikembalikan oleh bank karena tidak
cukup dana ini sifatnya akan mengoreksi (mengurangi) kembali besarnya
saldo cash in bank menurut catatan perusahaan. Dalam pembukuan
perusahaan (lewat jurnak koreksi), cek tidak cukup dana ini lalu akan
dibebankan kembali ke pelanggan bersangkutan, yaitu dengan cara memunculkan
kembali akun piutang usaha dan mengkredit akun cash in bank.
·
Notes plus Interest Collected by Bank (penagihan
piutang wesel beserta bunganya lewat bank) yang belum dicatat dalam jurnal
atau pembukuan perusahaan.
Apabila tagihan piutang wesel
dilakukan oleh bank, maka perusahaan baru akan mengetahui hasil penerimaan
tagihan ini (beserta bunganya) pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat
perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana
piutang wesel ditagih). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana piutang wesel
tersebut ditagih, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara
menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam
pembukuannya belum mencatat hasil penerimaan tagihan tersebut (beserta
bunganya), karena baru mengetahuinya di bulan berikutnya.Setiap akhir bulan
selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi selama
bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan
yang ada dengan catatan dari bank.Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash
in bank dimana piutang wesel ditagih, maka perusahaan dalam pembukuannya (lewat
jurnal koreksi) akan menambah saldo cash in bank menurut catatan
perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. jadi dalam hal ini pihak
banklah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mengkredit penerimaan
piutang wesel tersebut beserta bunganya ke dalam rekening perusahaan, sehingga
untuk kecocokkan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus
mengoreksi saldo cash in bank catatannya. Caranya adalah dengan mendebit
akun cash in bank sebesar nilai nominal wesel tagih ditambah
bunganya, dan mengkredit akun piutang wesel pelanggan bersangkutan (sebesar
nilai nominal tadi) serta juga mengkredit akun pendapatan bunga atas wesel
tagih tersebut.
·
Interest Income (bunga bank atas saldo rekening
perusahaan yang mengendap atau sering dikenal sebagai jasa giro) yang
belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan perusahaan.
Perusahaan biasanya baru akan
mengetahui hasil pendapatan bunga atas saldo rekeningnya yang telah mengendap
selama bulan berjalan pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan
menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana jasa giro
dihasilkan). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana jasa giro tersebut
dihasilkan, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara menurut
catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya
belum mencatat hasil jasa giro tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di
bulan berikutnya.
Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo
cash in bank dimana jasa giro dihasilkan, maka perusahaan dalam
pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan menambah saldo cash
in bank menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan
bank. Jadi dalam hal ini pihak bank-lah yang pertama kali mengetahui terlebih
dahulu dan mengkredit jumlah jasa giro tersebut ke dalam rekening perusahaan,
sehingga untuk kecocokan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam pembukuannya
harus mengoreksi saldo cash in bank catatannya. Caranya adalah dengan
mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun pendapatan bunga sebesar
jasa giro yang diperoleh.
·
Bank Service Charges (biaya jasa
bank) yang belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan perusahaan.
Biaya-biaya ini meliputi biaya
administrasi, biaya kliring, biaya penagihan piutang lewat bank, biaya cetak
buku cek, dan biaya lainnya yang dibebankan ke rekening nasabah sehubungan
dengan pemanfaatan fasilitas atau jasa yang diberikan bank.
Perusahaan biasanya baru akan
mengetahui besarnya biaya administrasi bulan berjalan pada awal bulan
berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang
telah lewat (bulan dimana biaya administrasi dibebankan). Hal ini berarti bahwa
dalam bulan dimana biaya administrasi tersebut dibebankan, telah terjadi
perbedaan saldo cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut
catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat besarnya biaya
administrasi tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di bulan berikutnya.
Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo
cash in bank dimana biaya administrasi dibebankan, maka perusahaan dalam
pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan mengurangi saldo cash
in bank menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan
bank. Jadi dalam hal ini pihak bank-lah yang pertama kali mengetahui terlebih
dahulu dan mendebit jumlah biaya administrasi tersebut ke dalam rekening
perusahaan, sehingga untuk kecocokkan saldo maka pihak perusahaan-lah yang
dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatanya.
Caranya adalah dengan mendebit akun beban administrasi lainnya dan mengkredit
akun cash in bank sebesar biaya administrasi yang dibebankan.
·
Error in Recording (kesalahan dalam pencatatan).
Kesalahan dalam pencatatan bisa saja
terjadi baik dilakukan oleh bank maupun perusahaan. Perusahaan hanya akan
membuat jurnal koreksi dalam pembukuannya, apabila kesalahan pencatatan
dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri. Untuk tujuan rekonsiliasi bank, jika
jumlah tertentu telah salah dicatat oleh perusahaan, maka selisih jumlah
kesalahan tersebut seharusnya ditambahkan atau dikurangi dari saldo cash in
bank menurut catatan perusahaan, disertai dengan pembuatan jurnal koreksi.
Demikian juga jika jumlah tertentu telah salah (keliru) dicatat oleh bank, maka
selisih jumlah kesalahan tersebut seharusnya ditambahkan atau dikurangkan dari
saldo cash in bank menurut catatan bank, tanpa perlu membuat jurnal
koreksi dalam pembukuan perusahaan.
3.6 Menjelaskan Penyusunan Laporan Rekonsiliasi Bank
Pencatatan Pos-Pos Penyesuaian.
A. Prosedur pembuatan Rekonsiliasi Bank
1. Bandingkan
setoran-setoran yang tercantum dalam laporan bank dengan setoran yang tercantum
dalam pembukuan pemegang giro
2. Buatlah
daftar check yang telah diuangkan di bank berdasarkan urut nomor dan
bandingkanlah daftar tersebut dengan pengeluaran check yang tercantum dalam
jurnal pengeluaran kas
3. Kurangkan
pada saldo menurut pembukuan pemegang giro semua debet memo yang dikirimkan
oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro (seperti debet memo untuk beban
administrasi )
4. Tambahkan
pada saldo menurut pembukuan pemegang giro semua kredit memo yang dikirim oleh
bank dan belumdi catat oleh pemegang giro ( misal wesel yang ditagih oleh bank
)
5. Periksa
apakah ada check dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu, yang
masih belum juga diuangkan pada bulan ini
6. Periksalah
bahwa setoran dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu telah
dikredit pada laporan bank bulan ini
7. Buatlah
rekonsilasi bank dengan langkah-langkah tersebut.
8. Buatlah
jurnal untuk pendebetan dan pengkreditan yang tercantum dalam laporan bank
tetapi belum dicatat dalam pembukuan pemegang.
B. Rekonsiliasi Rekening Bank
Rekonsiliasi dapat berarti menentukan hal-hal yang menimbulkan adanya
perbedaan antara saldo yang nampak dalam laporan bank dengan saldo yang nampak
dalam catatan pemegang giro.
Adapun untuk mengetahui faktor-faktor
yang menimbulkan perbedaan tersebut antara lain :
a. Transaksi yang sudah dicatat oleh pemegang giro tetapi belum dicatat
oleh bank yaitu ;
·
Check dalam peredaran ( out standing check )
yaitu check yang telah ditarik oleh pemegang giro tetapi oleh si penerima check
belum di uangkan di bank yang bersangkutan
·
Setoran dalam perjalanan ( deposit in
transit ) yaitu setoran yang telah dilakukan dan dicatat pemegang giro
tetapi belum tercantum dalam laporan bank.
b. Transaksi yang nampak di dalam laporan bank tetapi belum dicatat dalam
pembukuan pemegan giro yaitu
·
Biaya administrasi ( service charge )
·
Pendebetan karena check kosong (not fund check
)
·
Biaya penagihan bank ( collection receivable
)
C. Pos-pos
yang harus di sesuaikan melalui Ayat Jurnal Penyesuaian
1.
Pos-Pos Deffered (Pos mengenai biaya2 dan/atau
pendapatan2 dibayar dimuka yang melebihi batas akhir periode akuntansi)
a. Biaya-biaya dibayar dimuka.
Biaya-biaya ini pada akhir periode akuntansi harus diperjelas berapa biaya yang
harus dibebankan pada periode yang bersangkutan dan berapa yang masih berupa
harta pada periode berikutnya. Ada dua cara pencatatan yaitu:
· Dicatat sebagai Harta (Assets),
contohnya Asuransi dibayar dimuka (Prepaid Insurance), Perlengkapan (Supplies),
Iklan dibayar dimuka (Prepaid Advertising), dan lainnya.
·
Dicatat
sebagai Biaya (Expenses), contohnya Biaya asuransi (Insurance Expense), Biaya
Perlengkapan (Supplies Expenses), dan lainnya.
b. Pendapatan dibayar dimuka. Pada
akhir periode harus dijelaskan berapa pendapatan yang harus diperhitungkan, dan
berapa yang masih berupa hutang pada periode yang bersangkutan. Ada dua cara
pencatatan, yaitu:
·
Dicatat
sebagai Hutang (Liabilities), contohnya Bunga diterima dimuka (Unearned
Interest)
·
Dicatat
sebagai Pendapatan (Revenue), contohnya Pendapatan Bunga (Interest Revenue)
3.7 Menjelaskan Pengertian Piutang dan Jenis-Jenis
Piutang
A. Pengertian
piutang.
Secara umum piutang adalah merupakan hak atas uang,
barang dan jasa kepada orang lain. Pada umumnya piutang timbul ketika sebuah
perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit dan berhak atas penerimaan
kas di masa mendatang, yang prosesnya dimulai dari pengambilan keputusan untuk
memberikan kredit kepada langganan, melakukan pengiriman barang, penagihan dan
akhirnya menerima pembayaran, dengan kata lain piutang dapat juga timbul ketika
perusahaan memberikan pinjaman uang kepada perusahaan lain dan menerima promes
atau wesel, melakukan suatu jasa atau transaksi lain yang menciptakan suatu
hubungan dimana satu pihak berutang kepada yang lain seperti pinjaman kepada pimpinan
atau karyawan. Piutang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam
modal kerja suatu perusahaan. Sebagian piutang dapat dimasukkan dalam modal
kerja yaitu bagian piutang yang terdiri dari dana yang diinvestasikan dalam
produk yang terjual dan sebagian lain yang termasuk modal kerja potensial yaitu
bagian yang merupakan keuntungan.
B. Jenis-Jenis
Piutang
1. Piutang
Dagang (Account Receivables)
yaitu piutang yang timbul dari penjualan kredit barang atau Jasa yang
merupakan usaha pokok perusahaan. Bila piutang timbul dari penjualan asset
perusahaan, pemberian pinjaman kepada pihak tertentu maka piutang tersebut
tidak termasuk golongan piutang dagang.
2. Piutang
Wesel
Pengertian piutang wesel adalah piutang atau tagihan yang timbul dari
penjualan barang atau jasa secara tertulis, disertai dengan janji tertulis.
·
Piutang wesel mempunyai kekuatan hukum yang lebih
mengikat karena disertai janji tertulis berupa surat wesel atau surat promes.
·
Surat wesel dan surat promes adalah istilah untuk
perjanjian tertulis dalam jual beli barang atau jasa secara kredit.
·
Surat wesel adalah surat perintah yang dibuat oleh
kreditur yang ditujukan kepada debitur untuk membayar sejumlah uang tertentu
pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat wesel tersebut.
·
Pembuat surat wesel = Penarik wesel akan menerima
sejumlah uang yang disebutkan dalam surat wesel tersebut dari debitur ( pihak
yang tertarik wesel ) pada tanggal yang telah ditentukan dalam surat wesel
tersebut ( tanggal jatuh tempo wesel )
·
Jika penarik wesel membutuhkan uang sebelum tanggal
jatuh tempo maka surat wesel tadi dapat dipindah tangankan ( dijual =
didiskontokan ) kepada pihak lain / bank , asal saja surat wesel
tersebut sudah ditandatangani oleh pihak tertarik ( debitur ) Penandatananan /
persetujuan dari debitur terhadap surat wesel yang bersangkutan disebut = AKSEPTASI
·
Surat promes = surat kesanggupan untuk membayar
sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat
promes tersebut.
3. Jenis
piutang wesel :
·
Piutang wesel tidak berbunga = piutang wesel yang
tidak membebani bunga kepada pihak debitur, pada tanggal jatuh tempo jumlah
uang yang diterima oleh pemegang wesel adalah sebesar nilai nominal (
nilai yang dinyatakan dalam surat wesel )
·
piutang wesel berbunga = jumlah uang yang diterima
oleh pemegang wesel / promes pada tanggal jatuh tempo adalah sebesar nilai
nominal ditambah dengan bunga . Bunga piutang wesel biasanya dinyatakan dalam
prosentase ( % ) dari nilai nominal piutang wesel.
4. Piutang
Bukan Dagang
Piutang bukan dagang ini meliputi seluruh tipe piutang lainnya dan
mempunyai beberapa transaksi-transaksi yaitu :
·
Penjualan surat berharga atau pemilik selain barang
dan jasa.
·
Uang muka kepada pemegang saham, para direktur,
pejabat, karyawan dan perusahaan-perusahaan affiliasi.
·
Setoran-setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan
umum dan instansi – instansi lainnya
·
pembayaran dimuka pembelian-pembelian.
·
Setoran-setoran untuk menjamin pelaksanaan kontrak
atau pembayaran biaya.
·
Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
·
Saham yang masih harus disetor.
·
Piutang deviden dan bunga.
Piutang bukan dagang umumnya didukung dengan persetujuan-persetujuan formal
dan secara tertulis. Piutang bukan dagang harus diikhtisarkan dalam
perkiraan-perkiraan yang berjudul sesuai dan dilaporkan secara terpisah dalam laporan
keuangan.
5. Piutang Tak
Tertagih
Piutang memiliki resiko tidak tertagih sehingga timbul kerugian. Terdapat dua
metode dalam akuntansi untuk menangani kerugian piutang tak tertagih, yaitu:
1) Metode
Langsung. Jika metode ini yang digunakan, perusahaan tidak membentuk cadangan.
Jika ada piutang yang dihapus, Kerugian Piutang didebet, dan rekening Piutang
dikredit. Saldo rekening Kerugian Piutang pada akhir tahun disajikan dalam
Laporan Laba Rugi.
2) Metode
Cadangan/Penyisihan. Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama
membentuk cadangan atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban
Kerugian Piutang dan mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada
akhir tahun, saldo rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba
Rugi, sedangkan saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang
Piutang.
3.8
Menjelaskan
Pencatatan Akuntasi Terhadap Piutang Tak Tertagih Dengan Metode Langsung Dan
Metode Penyisihan (Cadangan Termasuk Piutang Yang Telah Dihapus Tetapi Dapat
Ditagih Kembali
A. Piutang
Tak Tertagih Metode Cadangan/Penyisihan
Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama membentuk cadangan
atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban Kerugian Piutang dan
mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada akhir tahun, saldo
rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba Rugi, sedangkan
saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang Piutang.
Jika ada piutang yang dihapus, perusahaan tidak mengakui kerugian, sebab
kerugian sudah diakui pada saat membentuk cadangan. Perusahaan mengurangi
Cadangan dengan mendebet rekening Cadangan dan mengkredit rekening Piutang.
Jika banyak penghapusan piutang, saldo Cadangan dapat habis, oleh karena itu
setiap akhir tahun Cadangan disesuaikan. Jadi pencatatan kerugian piutang
dilakukan pada saat:
•pembentukan cadangan, dan
• penyesuaian saldo Cadangan
B. Penerimaan Kembali Piutang Yang
Telah Dihapus
Kadang
kadang perusahaan berhasil menerima pembayaran dari piutang yang telah dihapus
karena dianggap sudah tidak mungkin dapat ditaging. hal semacam ini disebut
penerimaan kembali piutang. apabila terjadi penerimaan kembali suatu piutang
yang dihapus, maka perusahaan harus membuat dua ayat jurnal, yaitu: (1) ayat
jurnal untuk mencatat balik piutang yang telah dihapus sehingga tercatat
kembali dalam pembukuan sebagai piutang. Dan (2) jurnal untuk mencatat
penerimaan kas dari piutang yang telah dihapus. Sebagai contoh, apabila PT
Semeru melakukan pembayaran kewajuban kepada PT Kerinci pada tanggal 1 Juli
(rekening piutang kepada PT Semeru telah dihapus dalam pembukuan PT Kerinci),
maka jurnal yang harus dibuat oleh PT Kerinci adalah sebagai berikut :
(1)
Juli 1 Piutang Dagang……………………. Rp. 500,00
Cadangan
Kerugian Piutang Rp.
500,00
(untuk
mencatat balik piutang
Kepada
PT Semeru yang telah di hapus
(2)
1 Kas…………………………………. Rp. 500,00
Piutang
Dagang……………………………………. Rp. 500,00
(untuk
mencatat penerimaan kas
Dari PT Semeru)
seperti halnya penghapus piutang, penerimaan
kembali piutang juga hanya akan berpengaruh terhadap rekening-rekening neraca
(riil). Apabila kedua ayat jurnal diatas digabung, maka hasilnya adalah
rekening kas didebet dan rekening cadangan kerugian piutang dikredit sebesar
Rp. 500,00.
3.9 Menjelaskan Penaksiran Jumlah Penyisihan
Piutang Tak Tertagih Berdasarkan Persentase Piutang (Pendekatan Neraca),
Persentase Penjualan (Pendekatan Laba-Rugi) Dan Analisa Umur Piutang
A.
Metode penyisihan akuntansi untuk piutang tak tertagih. Terdapat dua cara untuk mengestimasi jumlah piutang
tidak tertagih :
1)
Berdasarkan
jumlah penjualan yang diperlihatkan
dalam laporan laba-rugi periode tertentu.
2)
Berdasarkan
jumlah piutang yang diperlihatkan dalam neraca akhir periode.
B.
Estimasi
Berdasarkan Penjualan.
Besarnya jumlah
penyisihan piutang tidak tertagih
ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari penjualan kredit.
Contoh :
Misalkan akun Penyisihan Piutang
Tidak Tertagih memiliki saldo kredit $ 700 sebelum penyesuaian. Menurut
pengalaman masa lalu, diestimasikan bahwa 1 % dari penjualan kredit tidak akan
tertagih. Jika penjualan kredit selama periode tersebut berjumlah $ 300.000,
maka ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat piutang tidak tertagih pada akhir
periode adalah :
Beban Piutang Tidak Tertagih 3.000
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
3.000
Atau
Uncollectible Accounts Expense 3.000
Allowance for Doubtful Accounts 3.000
Setelah ayat
jurnal penyesuaian diposting, saldo akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih akan
menjadi $ 3.700
Beban Piutang Tidak Tertagih 3.000
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
3.000
Atau
Uncollectible Accounts Expense 3.000
Allowance for Doubtful Accounts 3.000
Setelah ayat jurnal penyesuaian
diposting, saldo akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih akan menjadi $ 3.700
Besarnya jumlah penyisihan
piutang tidak tertagih ditetapkan
berdasarkan persentase tertentu dari :
(a) saldo piutang atau
(b) golongan umur piutang pada
akhir periode.
a) Saldo Piutang
Biasanya saldo
piutang yang dipakai adalah rata-rata antara saldo piutang awal dan akhir
periode.
Contoh :
Saldo piutang pada tanggal 1
Januari 2006 berjumlah $ 57.500 dan saldo piutang pada tanggal 31 Desember 2006
berjumlah $ 122.500. Misalkan Penyisihan Piutang Tidak tertagih memiliki saldo
kredit sebesar $ 700. Penyisihan Piutang Tidak Tertagih ditetapkan sebesar 3 %
dari saldo rata-rata piutang. Besarnya Penyisihan Piutang Tidak Tertagih pada
tanggal 31 Desember 2006 adalah :
57.500+ 122.500
3 % x = 2.700
2
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
yang dibentuk adalah sebesar $ 2.700 - $
700 =
$ 2.000.
Ayat jurnal penyesuaian :
Beban Piutang Tidak Tertagih 2.000
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih 2000
C.
Cara menghitung persentase adalah
sebagai berikut :
Presentase = Jumlah dicari persentasenya/ jumlah
keseluruhan x 100%
Saya
membeli dispenser senilai 100.000, karena ternyata dispenser itu ada yang cacat
dan tidak bisa ditukar maka saya jual dengan harga 67.000. Berapa persentase
kerugian saya.
Cara
menghitung persentase kerugiannya
jumlah
kerugian/harga beli x 100%
100.000-67.000/100.00 x 100% = 33%
contoh
soal lain
saya seorang pedagang, saya beli gula perkilonya 9800. Jika saya menginginkan
untung 20% maka berapa gula tersebut harus saya jual lagi.
sobat
bisa saja menghitung nilai keuntungan yang 20% nya dulu baru kemudian
ditambahkan dengan 9.800. atau dengan cara yang lebih cepat.
120%
—– x 9.800 = 11.760
100%
D.
Analisis
Umur Piutang
Kerugian piutang dapat pula ditaksir dengan
cara menganalisa umur dari saldo piutang debitur-debitur perusahaan. Umur
piutang masing-masing debitur digolongkan, baik yang belum dan yang suda jatuh
tempo.
Bagi piutang yang sudah jatuh tempo, makin
lama jaraknya dengan jatuh tempo, makin besar pula kemungkinan tak tertagihnya.
Dengan demikian, dalam menaksir besarnya kerugian piutang, masing-masing
kelompok umur piutang ditentukan besarnya persentase kerugian.
Analisis piutang selain digunakan untuk
menentukan jumlah piutang yang benar-benar tak tertagih, juga dapat berguna
untuk pertimbangan pengambilan keputusan tentang penjualan kredit oleh bagian
penjualan. Contoh :
Saldo piutang usaha CV MAKMUR per 31 Desember
2004 adalah sebesar Rp 30.000.000 yang terdiri atas :
|
Nama debitur
|
Saldo piutang per 31 Desember 2004
|
Tanggal jatuh tempo
|
|
Ali
|
Rp 4.000.000
|
19 November 2004
|
|
Budi
|
Rp 1.000.000
|
5 Desember 2004
|
|
Candra
|
Rp 3.750.000
|
3 Juli 2004
|
|
Djumai
|
Rp 1.250.000
|
23 Desember 2004
|
|
Edy
|
Rp 1.750.000
|
20 November 2004
|
|
Farida
|
Rp 5.000.000
|
23 Januari 2004
|
|
Gunadi
|
Rp 2.250.000
|
7 Februari 2004
|
|
Hardono
|
Rp 6.250.000
|
15 Desember 2004
|
|
Irawan
|
Rp 1.500.000
|
5 Agustus 2004
|
|
Yusuf
|
Rp 3.250.000
|
13 Oktober 2004
|
|
Jumlah
|
Rp 30.000.000
|
|
Adapun penggolongan umur piutang dan besarnya
persentase kerugian masing-masing umur tersebut adalah sebagai berikut :
Golongan Umur Piutang % kerugian:
a. Belum jatuh
tempo 0,5%
b. Telah jatuh
tempo
1) Lewat dari
1-30 hari 2,0%
2) Lewat dari
31-60 hari 5%
3) Lewat dari
61-90 hari 10%
4) Lewat dari
90 hari 20%
Berdasarkan ata di atas, besarnya kerugian
piutang dapat dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Membuat
tabel analisa umur piutang
Langkah
pertama dalam menaksir besarnya kerugian piutang dengan analisia umur piutang
adalah membuat tabel analisa umur piutang. Dalam tabel tersebut piutang dari
masing-masing debitur perusahaan dikelompokkan menurut umurnya. Umur piutang
dihitung dengan cara membandingkan tanggal jatuh tempo piutang dengan tanggal
saat dilakukan penaksiran kerugian piutang.
C. Penaksiran
Kerugian Piutang Dengan Pendekatan Laba-Rugi.
Dengan pendekatan laba-rugi, taksiran kerugian piutang
dihitung berdasarkan persentase jumlah penjualan kredit. Taksiran kerugian
piutang dinyatakan dalam persentase tertentu dari penjualan kredit bersih
setelah potongan dan retur penjualan berdasar pengalaman periode yang lalu.
Pendekatan ini menitikberatkan pada masalah pembebanan biaya pada periode
terjadinya pendapatan (matching). Contoh :
PT JATI LUHUR menggunakan metode penghapusan cadangan
dalam mencatat transaksi kerugian piutangnya. Di dalam menaksir besarnya
kerugian piutang digunakan persentase dari hasil penjualan kredit bersih. Untuk
menentukan persentase kerugian piutang, digunakan data 5 tahun terakhir sebagai
berikut.
|
Tahun
|
Penjualan
bersih
|
Penjualan
Kredit bersih
|
Yang
dinyatakan sebagai kerugian
|
Diperoleh
kembali
|
|
1999
|
60.000.000
|
48.000.000
|
300.000
|
20.000
|
|
2000
|
68.000.000
|
56.000.000
|
320.000
|
25.000
|
|
2001
|
80.000.000
|
60.000.000
|
325.000
|
25.000
|
|
2002
|
100.000.000
|
75.000.000
|
350.000
|
30.000
|
|
2003
|
122.000.000
|
81.000.000
|
345.000
|
20.000
|
|
Jumlah
|
430.000.000
|
320.000.000
|
1.640.000
|
120.000
|
Persentase dari hasil penjualan bersih :
{(1.640.000.000 - 120.000) : 430.000.000 x 100%} =
0,4% (pembulatan)
Persentase dari hasil penjualan kredit bersih :
{(1.640.000 - 120.000) : 320.000.000} x 100% = 0,5%
(pembulatan)
Adapun data mengenai hasil penjualan tahun 2004 adalah
sebagai berikut:
Jumlah penjualan bersih Rp 125.000.000
Jumlah penjualan kredit bersih Rp 85.000.000
Berdasarkan data di atas, jurnal penyesuaian yang
dibuat oleh PT JATI LUHUR pada akhir 2004 adalah sebagai berikut.
Jika kerugian piutang dari hasil penjualan bersih,
maka besarnya laba-rugi piutang adalah :
0,4%
x 125.000.000 = Rp 500.000
Jika kerugian piutang dari hasil penjualan kredit
bersih, maka besarnya laba-rugi piutang adalah :
0,5
x 85.000.000 = Rp 425.000
3.10 Menjelaskan Piutang Wesel (Wesel Tagih),
Penentuan Jangka Waktu Serta
Perhitungan Bunganya
A. PENGERTIAN WESEL TAGIH.
Janji tertulis yang tidak bersyarat dari satu pihak ke
pihak lain untuk sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu di masa yang akan
datang.
B. PENENTUAN TANGGAL JATUH
Saat jatuh (tanggal harus dibayar) sebuah surat wesel dapat dinyatakan
dengan tiga cara :
1. Atas penagih, artinya
pihak tertarik akan membayar wesel pada saat di tagih oleh pemegang wesel.
Dalam hal ini tidak disebutkan secara pasti tanggal penagihannya
2. Pada tanggal tertentu, artinya tanggal jatuh ditulis eksplisit dalam
surat wesel. Contoh: pada tanggal 23 juli 1992 harap dibayar …… (atau saya
berjanji akan membayar ……. )
3. Pada akhir masa tertentu, artinya setelah sekian hari, bulan atau tahun,
wesel harus dibayar. Contoh: enam puluh hari sesudah tanggal tersebut di atas.
Apabila
jangka waktu sebuah wesel dinyatakan dalam bulan, maka jangka jatuh dihitung
dengan jumlah bulan dari tanggal penarikan wsel. Sebagai contoh, tanggal jatuh
wesel yang bejangka waktu 3 bulan yang tanggal penarikannya 1 mei adalah 1
agustus. Wesel yang ditarik pada tanggal terakhir dari suatu bulan, tanggal
jatuhnya adalah pada hari terahir bulan (atau bulan-bulan) berikutnya, Contoh.
Wesel yang ditarik tanggal 31 juli untuk jangka waktu 2 bulan akan jatuh pada
tanggal 39 september. Apabila jangka waktu wesel dinyatakan dalam hari (seperti
dalam contoh di atas), maka perlu dihitung jumlah hari yang tepat, sehingga
dapat ditentukan tanggal jatuhnya. Dalam hal ini untuk menghitung tanggal
jatuh, maka tanggal penarikan wesel
tidak ikut dihitung sedangkan tanggal jatuh wesel ikut di perhitungkan, sebagai
contoh, tanggal jatuh sebuah wesel yang berjangka waktu 60 hari dengan tanggal
penarikan 17 juli adalah 15 septeber. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
|
Jangka waktu wesel
………………………………………… 60
Juli (31 - 17) ……………….. 14
Agustus …………………….. 31
45
Tanggal jatuh, September
…………………………………… 15
|
3.11 Menjelaskan Proses Pendiskontoan Piutang Wesel
Tanpa Bunga Menjelaskan Proses Pendiskontoan Piutang Wesel Dengan Bunga
A.
Proses pendiskontoan piutang wesel
Langkah –
Langkah Dalam Akuntansi Pendiskontoan Wesel Tagih :
1. Hitung nilai
jatuh tempo dari wesel (nilai nominal ditambah bunga sampai jatuh tempo).
2. Hitung
diskonto (tingkat diskonto bank dikalikan nilai jatuh tempo dikalikan
jangka waktu sampai jatuh tempo).
3. Hitunglah
hasil-hasil (nilai jatuh tempo dikurangi diskonto bank).
4. Hitunglah
nilai buku tercatat dari wesel tersebut (nilai nominal ditambah bunga
yang akan diterima sampai tanggal pendiskontoan).
5. Hitunglah
keuntungan atau kerugian, jika merupakan penjualan, atau pendapatan atau beban
bunga. Jika merupakan peminjaman (hasil dikurangi nilai buku tercatat).
6. Catatlah
ayat jurnal.
B.
Perhitungan diskonto piutang wesel tidak berbunga
Rumus:
Diskonto
= Nilai jatuh tempo x tarif x periode diskonto
Periode diskonto = Dalam perhitungan hari diskonto, tanggal
terjadinya transaksi tidak dihitung, tetapi tanggal jatuh tempo dihitung.
Nilai JatuTempo = Sebesar nilai Nominal wesel
Uang yang diterima = Nilai jatuh tempo – Diskonto
C. Pencatatan
diskonto piutang wesel tidak berbunga
Apabila
perusahaan mendiskontokan piutang wesel tanpa bunga maka, perusahaan
mencatatnya sebagai berikut:
- Mendebit Kas sebesar nilai jatuh tempo dikurangi diskonto
- Mendebet Biaya bunga sebesar nilai diskonto
- Mengkredit Piutang wesel sebesar Nilai nominal wesel tagih
D. Perhitungan
diskonto piutang wesel berbunga
Rumus:
Diskonto = Nilai jatuh tempo x
tarif x periode diskonto
Periode diskonto = Dalam
perhitungan hari diskonto, tanggal terjadinya transaksi tidak dihitung, tetapi tanggal
jatuh tempo dihitung.
Nilai Jatuh Tempo = Nilai Nominal wesel tagih + Bunga
Uang yang diterima = Nilai jatuh tempo - Diskonto
E. Pencatatan
diskonto piutang wesel berbunga
Apabila perusahaan mendiskontokan piutang wesel berbunga maka, perusahaan
mencatatnya sebagai berikut:
1) Mendebit Kas
sebesar nilai jatuh tempo dikurangi diskonto
2)
Mengkredit pendapatan bunga sebesar selisih Kas yang
diterima dengan nilai nominal wesel tagih
3) Mengkredit
Piutang wesel sebesar Nilai nominal wesel tagih
3.12 Menjelaskan perhitungan nilai tunai wesel
tagih dengan bunga menjelaskan perhitungan nilai tunai wesel tagih tanpa bunga
A. PENILAIAN WESEL TAGIH
Akun penyisihan wesel tagih yang utama
adalah penyisihan untuk wesel tak tertagih. Perhitungan dan estimasi yang
terlibat dalam menilai wesel tagih jangka pendek dan dalam mencatat beban
piutang tak tertagih serta penyisihan yang berhubungan sama persis dengan wesel
dagang.
Namun wesel tagih jangka panjang
menimbulkan masalah estimasi tambahan. Wesel tagih dipandang berkurang nilainya
jika terdapat kemungkinan bahwa kreditur tidak akan menagih seluruh jumlah yang
terutang sesuai dengan ketentuan kontraktual pinjaman.
1.
Perhitungan
nilai tunai Wesel Tidak Berbunga (Discount
On Notes Receivable)
Adalah wesel yang tidak
dibebani bunga, sehingga pada tanggal jatuh tempo, debitor hanya membayar
jumlah nominal wesel kepada pemegangnya.
Contoh
:
Tanggal 1 Maret 2008 Tuan
Maringgih menarik wesel sejumlah Rp. 25.000.000,- kepada CV. Lestari yang jatuh
temponya tanggal 1 Juli 2008. Pda tanggal 4 Maret 2008 wesel tersebut
didiskontokan ke BNI dengan bunga diskonto 18 % / tahun dan dipotong
administrasi Rp.5.000,-
Pertanyaan
:
a. Jumlah
yang harus dibayar CV. Lestari pada tanggal jatuh tempo.
b. Nilai
tunai wesel yang diterima Tuan Maringgih pada tanggal 4 Maret 2008.
Jawab
:
a. Jumlah
yang harus dibayar pada tanggal jatuh tempo adalah sebesar Rp. 25.000.000,-
b. Nilai
tunai = Nilai Nominal – Diskonto – Biaya Administrasi.
Hari diskonto : 4 Maret 2008 s/d 1 Juli
2008 adalah :
Maret 31 - 3 =
28 hari
April = 30
hari
Mei =
31 hari
Juni
= 30 hari
Jumlah
= 119 hari
Diskonto = ( 25.000.000 X 18 X 119) : ( 100 X 360) = Rp. 1.487.500
Jadi nilai tunai wesel = 25.000.000 - 1.487.000 - 5.000 = Rp 23.507.500